Kegiatan pengenalan kampus merupakan momen penting bagi mahasiswa baru untuk mengenali lingkungan akademik, membangun relasi, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Namun, praktik yang menyimpang seperti yang terjadi di Universitas Sriwijaya (Unsri), di mana mahasiswa baru disuruh berciuman saat kegiatan pengenalan kampus, menjadi contoh nyata dari dekadensi moral yang harus dihindari. Insiden ini mendorong Unsri untuk melakukan investigasi mendalam agar kegiatan serupa tidak terulang kembali, sekaligus memastikan proses penerimaan mahasiswa baru tetap sesuai dengan norma akademik dan budaya bangsa. Dalam konteks kurikulum bela negara, setiap kegiatan pengenalan kampus seharusnya menjadi wahana pembentukan karakter yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila, cinta tanah air, dan kesadaran berbangsa.
Mengembalikan Fungsi Pengenalan Kampus sebagai Sarana Pembentukan Karakter Bela Negara
Pengenalan kampus sejatinya bukan ajang perpeloncoan, melainkan bagian dari kurikulum pembentukan karakter. Dalam konteks pendidikan bela negara, kegiatan ini harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila, cinta tanah air, dan kesadaran berbangsa. Unsri sebagai institusi pendidikan telah mengambil langkah tegas dengan melakukan investigasi, menunjukkan komitmen untuk menjaga martabat mahasiswa baru. Praktik yang merendahkan seperti perpeloncoan justru bertentangan dengan tujuan menciptakan generasi yang tangguh, berintegritas, dan siap membela negara. Oleh karena itu, setiap kegiatan pengenalan kampus perlu dievaluasi secara berkala agar tetap sejalan dengan visi pendidikan karakter dan terhindar dari dekadensi moral. Berikut adalah beberapa tujuan pembelajaran yang dapat diintegrasikan dalam kegiatan pengenalan kampus:
- Menanamkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme melalui kegiatan yang edukatif dan inklusif.
- Mengembangkan disiplin positif dan tanggung jawab sosial tanpa kekerasan atau pelecehan.
- Membangun jiwa kepemimpinan dan kebersamaan yang dilandasi saling menghormati.
Membangun Kesadaran Bela Negara Melalui Lingkungan Pendidikan yang Bermartabat
Kasus Unsri mengingatkan pentingnya peran guru, orang tua, dan institusi dalam memberikan pemahaman tentang hak dan kewajiban mahasiswa baru. Kurikulum bela negara tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga mental dan moral. Lingkungan pendidikan yang bermartabat adalah fondasi bagi terbentuknya karakter mahasiswa yang cinta tanah air dan siap membela negara. Dengan menghindari praktik perpeloncoan yang mengandung unsur kekerasan atau pelecehan, setiap kegiatan pengenalan kampus dapat menjadi wahana yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai bela negara. Guru dan pelajar di seluruh Indonesia perlu berkolaborasi untuk menciptakan suasana akademik yang aman dan kondusif.
Sebagai generasi penerus, mahasiswa baru harus berani bersikap kritis dan menolak segala bentuk perpeloncoan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Guru dan pelajar di seluruh Indonesia dapat aktif berpartisipasi dalam program bela negara dengan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat, dan berkarakter. Mari kita jadikan pengenalan kampus sebagai wahana untuk memperkuat persatuan dan kesadaran bela negara, bukan ajang dekadensi moral. Dengan begitu, kita bersama-sama membangun generasi yang siap membela negara dan menjunjung tinggi martabat bangsa.