Program Sekolah Penggerak yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memasuki fase strategis baru. Mulai tahun ajaran 2026/2027, seluruh satuan pendidikan berstatus Sekolah Penggerak diwajibkan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam setiap kegiatan harian di sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, melalui rilis resmi pada 21 Agustus 2026, menegaskan bahwa setiap Sekolah Penggerak harus memiliki jurnal aktivitas kebangsaan yang mencatat secara sistematis bagaimana guru dan siswa mengamalkan sila-sila Pancasila, baik di dalam kelas, laboratorium, maupun lingkungan sekolah. Kebijakan ini merupakan langkah nyata dalam memperkuat pendidikan karakter dan membentuk generasi muda yang cinta tanah air, sekaligus menjadi fondasi utama dalam Kurikulum Bela Negara.
Implementasi Nilai Pancasila dalam Kegiatan Harian Sekolah Penggerak
Integrasi nilai Pancasila dilakukan melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif. Contoh konkret yang telah diimplementasikan antara lain: pada setiap awal jam pelajaran, guru meminta siswa melakukan refleksi singkat tentang sila kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, melalui kegiatan gotong royong membersihkan ruang kelas. Pada pelajaran Matematika, guru menyusun soal yang berkaitan dengan distribusi bantuan sosial sebagai latihan penerapan sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sementara itu, kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka dan Palang Merah Remaja (PMR) diperkuat dengan penekanan pada sila ketiga, persatuan Indonesia, melalui pembelajaran bahasa daerah dan permainan tradisional. Semua aktivitas ini dicatat dalam jurnal aktivitas kebangsaan yang menjadi portofolio digital sekolah, sehingga orang tua dapat memantau perkembangan karakter putra-putrinya secara transparan. Berikut adalah rincian poin penting dalam program ini:
- Tujuan pembelajaran: Meningkatkan pemahaman dan pengamalan sila-sila Pancasila dalam konteks nyata, sehingga siswa mampu menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
- Tahapan program: Perencanaan, pelaksanaan, pencatatan jurnal, evaluasi, dan pelaporan portofolio digital setiap semester.
- Materi bela negara: Gotong royong, keadilan sosial, persatuan, dan cinta tanah air yang diintegrasikan melalui kegiatan harian di kelas dan ekstrakurikuler.
Manfaat dan Dampak bagi Pendidikan Karakter dan Bela Negara
Penerapan integrasi nilai Pancasila dalam kegiatan harian di Sekolah Penggerak membawa sejumlah manfaat signifikan. Pertama, penguatan budaya sekolah yang berkarakter dan humanis, sehingga mengurangi potensi kasus intoleransi dan perundungan. Kedua, pelajar menjadi lebih reflektif terhadap perbuatan sehari-hari, seperti menyadari pentingnya gotong royong dan keadilan. Ketiga, guru dapat mengevaluasi perkembangan karakter peserta didik secara sistematis melalui portofolio digital yang disusun setiap semester. Program ini juga menjadi model bagi sekolah lain yang akan mengadopsi Kurikulum Bela Negara secara lebih luas. Dengan pendekatan ini, nilai Pancasila tidak lagi menjadi hafalan semata, melainkan bagian dari kebiasaan harian yang membentuk kepribadian siswa.
Mari, para guru dan pelajar di seluruh Indonesia, jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk memperkuat jiwa kebangsaan kita. Dengan aktif berpartisipasi dalam program Sekolah Penggerak, kita tidak hanya membangun pendidikan karakter yang kokoh, tetapi juga menanamkan cinta tanah air yang mendalam. Setiap langkah kecil dalam kegiatan harian—baik gotong royong, keadilan, maupun persatuan—adalah wujud nyata bela negara yang dimulai dari sekolah. Ayo, mulai hari ini, kita amalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aktivitas, karena generasi muda yang berkarakter adalah masa depan bangsa yang tangguh!