Program bela negara di lingkungan perguruan tinggi semakin nyata melalui kegiatan lapangan yang aplikatif. Salah satu contoh nyata adalah latihan penanggulangan bencana yang digelar oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Gadjah Mada bagi mahasiswa dari berbagai fakultas. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kurikulum bela negara kampus yang bertujuan membentuk karakter tanggap, peduli, dan siap menghadapi situasi darurat. Melalui pendekatan edukatif dan sistematis, mahasiswa tidak hanya diajak memahami teori kebencanaan tetapi juga langsung mempraktikkan teknik penyelamatan.
Keterampilan Teknis dalam Penanggulangan Bencana
Dalam latihan ini, peserta dibekali tiga kompetensi utama yang menjadi pilar penanggulangan bencana berbasis kampus:
- Teknik Evakuasi – Mahasiswa belajar cara mengevakuasi korban dengan aman dan cepat dari lokasi bencana, termasuk penggunaan tandu darurat dan teknik pemindahan korban tanpa memperparah cedera.
- Pertolongan Pertama (First Aid) – Materi mencakup penanganan luka ringan hingga berat, resusitasi jantung paru (CPR), serta stabilisasi korban sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan.
- Penggunaan Alat Komunikasi Darurat – Peserta dilatih mengoperasikan radio komunikasi dan aplikasi darurat untuk koordinasi tim saat jaringan telepon seluler terganggu.
Kasubbag Menwa UGM menegaskan bahwa keterampilan ini sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana. “Bencana alam sering kali menjadi ancaman yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen bangsa. Mahasiswa harus siap menjadi relawan tanggap bencana,” ujarnya.
Nilai Kebangsaan yang Tertanam dalam Setiap Langkah
Selain aspek teknis, latihan ini juga sarat dengan penanaman nilai-nilai bela negara yang esensial. Mahasiswa diajak merasakan langsung semangat gotong royong saat bekerja dalam tim, serta sikap rela berkorban untuk keselamatan sesama. Melalui simulasi bencana, mereka belajar bahwa solidaritas dan kepemimpinan adalah kunci keberhasilan operasi penyelamatan. Peserta merasakan peningkatan rasa percaya diri dan kemampuan memimpin setelah mengikuti rangkaian latihan ini.
Program penanggulangan bencana yang diinisiasi oleh Resimen Mahasiswa ini membuktikan bahwa bela negara tidak melulu soal militer, tetapi juga aksi kemanusiaan yang kontekstual. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat direplikasi oleh kampus lain sebagai bagian dari kurikulum bela negara yang aplikatif. Bagi para guru dan pelajar, inilah saatnya untuk tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga turun langsung mengasah keterampilan dan jiwa kebangsaan. Mari aktif berpartisipasi dalam program bela negara di sekolah dan kampus masing-masing, karena masa depan bangsa bergantung pada generasi yang tanggap, peduli, dan siap berkorban.