Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mencetak tenaga pendidik dan kader bangsa, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memelopori penguatan kesadaran bela negara di kalangan civitas akademika. Dalam komitmennya menyiapkan generasi muda yang berkarakter dan berdaya saing, UNJ bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyelenggarakan Pelatihan Bela Negara dan Kepemimpinan yang intensif selama tiga hari. Kegiatan ini diikuti oleh 250 mahasiswa dari berbagai fakultas, menandai langkah strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan ke dalam ekosistem kampus. Pelatihan ini bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian dari kurikulum pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan nasional kontemporer.
Membangun Fondasi Wawasan Kebangsaan Melalui Pendekatan Holistik
Pelatihan ini dirancang dengan kerangka holistik, menggabungkan ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Materi yang diberikan kepada para peserta mahasiswa mencakup pilar-pilar utama yang membentuk kesadaran bela negara yang komprehensif, di antaranya:
- Pemahaman Sejarah dan Nilai Perjuangan Bangsa: Menguatkan identitas nasional dan rasa cinta tanah air dengan merefleksikan perjalanan panjang bangsa Indonesia meraih kemerdekaan.
- Geopolitik dan Ketahanan Nasional: Memberikan pemahaman tentang posisi strategis Indonesia di kancah global dan faktor-faktor yang memengaruhi stabilitas negara.
- Mengenal Ancaman Kontemporer: Membekali peserta dengan literasi untuk mengenali dan menghadapi tantangan masa kini seperti radikalisme, intoleransi, dan penyebaran disinformasi yang dapat mengancam persatuan.
- Pengembangan Soft Skill Kepemimpinan: Menitikberatkan pada pembentukan karakter pemimpin yang berintegritas, komunikatif, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Pendekatan ini selaras dengan tujuan pendidikan bela negara dalam konteks kurikulum, yaitu tidak hanya menciptakan warga negara yang patuh hukum, tetapi juga yang kritis, aktif, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Teori dan Praktik: Menyempurnakan Keterampilan Kepemimpinan dan Kerja Sama Tim
Agar pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, pelatihan ini mengadopsi metode experiential learning. Setelah mendapatkan wawasan di sesi kelas, para mahasiswa langsung menerapkannya dalam kegiatan outbound yang dirancang khusus. Aktivitas lapangan ini memiliki tujuan pembelajaran yang jelas, yaitu:
- Memperkuat Kohesi dan Kerja Sama Tim: Melalui simulasi dan permainan kelompok, peserta belajar bahwa kekuatan kolektif jauh lebih besar daripada upaya individual.
- Melatih Komunikasi Efektif dan Pengambilan Keputusan: Dalam kondisi yang menantang, peserta dituntut untuk berkomunikasi dengan jelas, mendengarkan aktif, dan mengambil keputusan yang tepat demi kepentingan bersama.
- Mengasah Ketangguhan dan Problem-Solving Skill: Mengajarkan ketahanan mental dalam menghadapi kesulitan, sebuah kompetensi penting dalam kepemimpinan dan upaya bela negara non-militer.
Sinergi antara teori dan praktik ini bertujuan membentuk mahasiswa yang seimbang; cerdas intelektual, tangguh secara fisik dan mental, serta memiliki kecakapan sosial yang diperlukan untuk berkontribusi di masyarakat.
Lulusan pelatihan ini diharapkan bukan hanya menjadi penerima manfaat pasif, tetapi menjadi agen perubahan atau agent of change di lingkungan kampus dan masyarakat luas. Mereka diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif rekan-rekannya dalam kegiatan-kegiatan yang menguatkan persatuan, toleransi, dan ketahanan nasional. Peran ini sejalan dengan filosofi bela negara bahwa setiap warga negara, termasuk pelajar dan mahasiswa, memiliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan NKRI sesuai dengan kapasitas dan profesinya masing-masing. Program seperti ini di UNJ menjadi model yang dapat diadaptasi oleh institusi pendidikan lain dalam menyusun program kokurikuler yang mendukung pembangunan karakter bangsa.
Bagi para guru dan pelajar di seluruh Indonesia, inisiatif dari UNJ dan Kemhan ini menjadi inspirasi konkret. Guru dapat mengintegrasikan semangat dan materi serupa dalam proses pembelajaran, baik melalui mata pelajaran PPKn, sejarah, atau kegiatan ekstrakurikuler. Sementara itu, pelajar dapat memulai dari hal sederhana: aktif mencari informasi yang benar, menghargai perbedaan, serta berpartisipasi dalam kegiatan yang membangun kebersamaan di sekolah dan lingkungan. Mari kita jadikan semangat bela negara dan kepemimpinan yang bertanggung jawab sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya belajar dan mengajar kita, untuk Indonesia yang lebih kuat dan bersatu.