Dalam upaya sistematis memperkuat pendidikan karakter dan kesadaran bela negara di Indonesia, pemerintah melalui sinergi strategis Kementerian Agama, Kementerian Pertahanan, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) secara aktif mengembangkan pesantren modern sebagai salah satu basis utama. Program ini dirancang dengan pendekatan holistik, mengintegrasikan wawasan kebangsaan, literasi digital, dan nilai-nilai cinta tanah air ke dalam ekosistem pembelajaran pesantren, tanpa menggeser fokus pada kajian agama yang menjadi khittahnya. Tujuannya adalah membentuk generasi santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki jiwa patriotik yang kokoh—sebuah profil patriot-religius yang mencintai Indonesia dengan sepenuh hati.
Pendekatan Holistik dalam Kurikulum: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
Untuk mencapai tujuan pembentukan karakter dan kesadaran bela negara yang menyeluruh, program di pesantren modern menerapkan pendekatan pembelajaran komprehensif yang mencakup tiga ranah kompetensi sekaligus, selaras dengan prinsip kurikulum pendidikan nasional yang menekankan pembentukan kompetensi utuh. Pendekatan ini dirancang agar nilai-nilai kebangsaan tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para santri. Berikut adalah rincian ketiga pendekatan tersebut:
- Pendekatan Kognitif (Pengetahuan): Santri mendapatkan pemahaman mendalam melalui kelas khusus tentang keutuhan NKRI, Pancasila sebagai ideologi bangsa, serta ancaman radikalisme dan disinformasi di era digital. Materi ini menjadi fondasi pengetahuan untuk membangun argumen dan analisis yang kuat tentang pentingnya menjaga persatuan.
- Pendekatan Afektif (Sikap): Nilai-nilai kebangsaan, moderasi beragama, dan rasa cinta tanah air ditanamkan melalui pengalaman langsung. Kegiatan seperti kemah kebangsaan, bakti sosial lintas agama, dan diskusi kelompok dirancang untuk membangun rasa persatuan, empati, dan solidaritas antar-sesama.
- Pendekatan Psikomotorik (Keterampilan): Santri dilatih dengan pembekalan fisik dasar dan kedisiplinan, yang bertujuan mengasah ketangguhan fisik, mental, serta semangat pantang menyerah. Keterampilan ini merupakan bagian konkret dari kesiapan bela negara dalam arti yang luas.
Kompetensi Lulusan: Mencetak Warga Negara yang Tangguh dan Kontributif
Tujuan strategis jangka panjang dari program penguatan ini sangat relevan dengan kurikulum kebangsaan dan bela negara. Pesantren modern diharapkan menjadi basis pencetak warga negara yang tangguh, moderat, dan berkontribusi positif bagi bangsa. Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi ahli agama yang memahami Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Mereka dibekali dengan pemahaman utuh tentang tanggung jawab sebagai bagian dari Indonesia—sebuah 'kitab kebangsaan' dalam praktik nyata.
Manfaat program ini bagi santri bersifat multidimensi dan mendalam. Kesiapan bela negara dimaknai secara luas, tidak hanya dalam konteks pertahanan militer, tetapi sebagai bentuk pengabdian sesuai dengan keahlian masing-masing. Santri diharapkan dapat menjadi:
- Agen perdamaian dan pemersatu di masyarakat, yang mampu merajut toleransi.
- Ulama yang menebar moderasi dan kearifan dalam beragama.
- Profesional yang memajukan bangsa dengan integritas dan semangat nasionalisme.
- Warga negara yang aktif menjaga keutuhan NKRI dari ancaman disintegrasi dan radikalisme.
Profil lulusan ini sejalan dengan tujuan pendidikan karakter yang ingin membentuk Profil Pelajar Pancasila: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Sebagai penutup yang edukatif, program penguatan pesantren modern ini mengajak seluruh civitas akademika, khususnya guru dan pelajar di berbagai lembaga pendidikan, untuk mengambil spirit yang sama. Nilai-nilai bela negara dan pembangunan karakter kebangsaan dapat diintegrasikan dalam setiap aktivitas pembelajaran, baik di dalam maupun luar kelas. Mari kita bersama-sama menjadikan setiap ruang pendidikan sebagai basis untuk menumbuhkan kecintaan pada tanah air, semangat persatuan, dan kesiapan untuk membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan cara kita masing-masing, sesuai dengan kompetensi dan peran kita dalam masyarakat.