Beranda / Bela Negara / Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling B...
Bela Negara

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Panglima TNI menekankan bahwa perang narasi adalah ancaman utama yang harus dihadapi dengan bela negara non-kinetik, melalui penguatan pendidikan karakter dan literasi media di sekolah. Guru dan pelajar diajak berperan aktif membangun ketahanan ideologis bangsa dengan menjadi patriot digital yang cerdas dan kritis.

Dalam pembekalan kepada 152 Perwira Siswa Pendidikan Reguler LV Sesko TNI di Bandung, Jawa Barat, Panglima TNI menyampaikan arah strategis baru untuk pendidikan karakter dan bela negara di era digital. Pernyataan yang disampaikan pada Kamis, 24 Juli 2026, ini menegaskan bahwa ancaman paling berbahaya saat ini tidak selalu berupa kekuatan fisik, melainkan perang narasi. Pernyataan ini membuka cakrawala baru bagi dunia pendidikan, khususnya dalam merumuskan kurikulum wawasan kebangsaan yang lebih relevan dengan tantangan zaman, di mana generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk menjaga keutuhan bangsa di ranah ide dan informasi.

Mengenal Bentuk Baru Ancaman dan Tanggung Jawab Bela Negara

Konsep bela negara kini mengalami perluasan makna yang signifikan. Tidak lagi terbatas pada kesiapan fisik atau keterlibatan militer, melainkan mencakup upaya menjaga kedaulatan bangsa di segala bidang, termasuk di ruang digital dan informasi. Inilah yang disebut sebagai bela negara non-kinetik. Ancaman berupa perang narasi—yaitu penyebaran informasi, cerita, atau pesan yang bertujuan memecah belah, menanamkan kebencian, atau merusak kepercayaan terhadap bangsa dan negara—menjadi tantangan nyata bagi persatuan. Oleh karena itu, tugas membangun ketahanan nasional tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga seluruh warga negara, termasuk para guru dan pelajar di lingkungan sekolah.

Integrasi Literasi Media dan Berpikir Kritis dalam Kurikulum

Untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan ini, dunia pendidikan formal memegang peran kunci. Sekolah dan perguruan tinggi diharapkan dapat mengintegrasikan kemampuan literasi media dan berpikir kritis sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kurikulum wawasan kebangsaan. Tujuannya adalah membentuk pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara ideologis. Berikut adalah kompetensi yang perlu dikembangkan melalui pembelajaran di kelas maupun kegiatan non-formal:

  • Kemampuan Mengidentifikasi Informasi: Membedakan antara fakta, opini, dan disinformasi yang beredar di media sosial atau platform digital.
  • Kemampuan Analisis Narasi: Memahami maksud, tujuan, dan kemungkinan dampak dari suatu cerita atau pesan yang disebarkan.
  • Kemampuan Menangkal Propaganda: Memiliki daya kritis untuk tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang merusak persatuan, seperti ujaran kebencian, hoaks, atau isu sara.
  • Kemampuan Membangun Narasi Positif: Aktif menyebarkan konten yang mempromosikan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan Indonesia.
Pembelajaran ini dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran seperti PPKn, Bahasa Indonesia, Sejarah, atau melalui proyek khusus dan ekstrakurikuler.

Pernyataan Panglima TNI ini juga menegaskan bahwa perguruan tinggi, sebagai pencetak calon pemimpin bangsa, memiliki tanggung jawab besar. Program studi di berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan komunikasi, hukum, dan sosial-humaniora, perlu memasukkan materi tentang dinamika perang narasi dan psikologi propaganda ke dalam silabus. Hal ini bertujuan agar lulusan tidak hanya menjadi ahli di bidangnya, tetapi juga warga negara yang memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga keutuhan NKRI dari ancaman ideologis yang halus namun berbahaya.

Dengan demikian, pesan dari Bandung tersebut adalah seruan kolektif. Bagi para guru, ini adalah ajakan untuk menjadi garda terdepan dalam mentransformasi konsep bela negara non-kinetik menjadi materi ajar yang menarik dan aplikatif. Bagi pelajar, ini adalah ajakan untuk aktif menjadi patriot digital—mengasah literasi media, menyaring informasi dengan bijak, dan menjadi agen penyebar narasi-narasi positif yang memperkuat persatuan. Mari bersama-sama kita wujudkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menguatkan jiwa dan raganya di tengah gempuran arus informasi global.