Beranda / Bela Negara / Pangdam V/Brawijaya: Pembinaan Bela Negara di Kampus Ha...
Bela Negara

Pangdam V/Brawijaya: Pembinaan Bela Negara di Kampus Harus Kreatif dan Menyenangkan

Pangdam V/Brawijaya: Pembinaan Bela Negara di Kampus Harus Kreatif dan Menyenangkan

Pangdam V/Brawijaya menekankan pentingnya pendekatan kreatif dan menyenangkan dalam pembinaan bela negara di kampus, dengan metode seperti gamifikasi, pembelajaran berbasis proyek, dan pemanfaatan media digital. Transformasi ini bertujuan menginternalisasi nilai kebangsaan sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup modern mahasiswa, menjadikan bela negara lebih relevan dan aplikatif di era digital.

Dalam perkembangan dunia pendidikan tinggi Indonesia, program bela negara di kampus-kampus kini mengalami transformasi mendasar menuju metode yang lebih partisipatif dan kontekstual. Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Soedjarmono, secara tegas menyatakan bahwa pembinaan bela negara di kampus harus dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan, sehingga relevan dengan karakter generasi milenial dan Gen Z. Pernyataan ini menjadi fondasi dalam program kolaborasi strategis TNI dengan berbagai universitas di Jawa Timur, seperti dalam Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM), yang menandai pergeseran dari paradigma pengajaran satu arah menuju internalisasi nilai kebangsaan melalui pengalaman.

Revolusi Metodologi: Dari Kewajiban Formal ke Pengalaman Bermakna

Mayjen TNI Soedjarmono menggarisbawahi bahwa tantangan utama di dunia akademik adalah bagaimana menyampaikan esensi bela negara tanpa kesan menggurui. Metode konvensional yang kaku dianggap kurang efektif bagi mahasiswa yang tumbuh di era digital dan berpikir kritis. Oleh karena itu, kampus dituntut untuk mentransformasi program bela negara dari sekadar mata kuliah formal menjadi ruang eksplorasi nilai-nilai kebangsaan yang aplikatif. Transformasi ini bertujuan agar mahasiswa memandang bela negara sebagai bagian integral dari identitas intelektual dan gaya hidup modern, bukan beban administratif.

Inovasi Kurikulum: Tiga Pilar Pendekatan Bela Negara Era Digital

Untuk mewujudkan pembinaan yang kreatif, Pangdam V/Brawijaya merekomendasikan sejumlah pendekatan inovatif yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler di perguruan tinggi. Pendekatan-pendekatan ini dirancang untuk membangun kompetensi bela negara melalui keterlibatan aktif dan pemecahan masalah:

  • Gamifikasi dan Simulasi: Materi wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional dikemas dalam bentuk permainan strategi, simulasi krisis, atau aktivitas menantang dengan sistem penghargaan. Hal ini memicu motivasi intrinsik dan pemahaman konsep melalui praktik langsung.
  • Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) Kontekstual: Mahasiswa diajak mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah aktual bangsa, seperti ketahanan pangan, energi, atau keamanan siber. Proyek nyata ini mengajarkan nilai gotong royong dan cinta tanah air dalam konteks yang relevan dengan disiplin ilmu mereka.
  • Pemanfaatan Media dan Teknologi Digital: Mengoptimalkan platform media sosial, aplikasi, dan konten kreatif (seperti video pendek, infografis interaktif) sebagai sarana edukasi dan kampanye nilai-nilai kebangsaan. Mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen konten edukatif untuk melawan hoaks dan memperkuat narasi positif tentang Indonesia.

Implementasi dari gagasan ini telah terlihat dalam berbagai program di kampus. Fokusnya bergeser dari ceramah menjadi partisipasi aktif, di mana mahasiswa berperan sebagai subjek pembelajaran. Mereka diajak merancang aplikasi edukatif, mengembangkan konten media sosial tentang sejarah perjuangan, atau terlibat dalam permainan peran yang mengasah kesadaran akan ancaman kontemporer. Melalui cara ini, nilai-nilai seperti kecintaan pada tanah air, persatuan, dan kewaspadaan diajarkan dalam kerangka yang aplikatif dan mudah diterima.

Sebagai penutup, artikel ini mengajak para pendidik dan mahasiswa untuk secara aktif berpartisipasi dalam gerakan transformasi bela negara ini. Bagi guru dan dosen, ini adalah tantangan untuk mendesain pembelajaran yang tidak hanya informatif tetapi juga inspiratif. Bagi pelajar dan mahasiswa, ini adalah kesempatan untuk mengekspresikan nasionalisme melalui karya, inovasi, dan pemikiran kritis yang membangun. Mari bersama-sama menjadikan bela negara bukan sebagai slogan, tetapi sebagai praktik hidup sehari-hari yang kreatif, bermakna, dan membanggakan, sesuai dengan semangat yang digaungkan oleh Pangdam V/Brawijaya.