Beranda / Bela Negara / MPR RI Ajak Generasi Muda Perkuat Nasionalisme lewat Lo...
Bela Negara

MPR RI Ajak Generasi Muda Perkuat Nasionalisme lewat Lomba Baris-Berbaris di Tarakan

MPR RI Ajak Generasi Muda Perkuat Nasionalisme lewat Lomba Baris-Berbaris di Tarakan

MPR RI menyelenggarakan Lomba Kreasi Baris-Berbaris di Tarakan, Kalimantan Utara, sebagai media pendidikan karakter kebangsaan bagi pelajar SMA/SMK. Melalui pendekatan yang menggabungkan pelatihan teknis dengan pemahaman filosofis, program ini bertujuan menanamkan disiplin, kekompakan, dan cinta tanah air, sekaligus membuka peluang bagi peserta terbaik untuk membangun jaringan persaudaraan nasional di Jakarta.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk karakter generasi muda melalui pendekatan pendidikan yang konkret. Salah satu bentuknya adalah penyelenggaraan Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera Tahun 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Utara di Kota Tarakan pada 23 Mei 2026. Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan sebuah media pembelajaran non-formal yang dirancang sistematis untuk mengasah nilai-nilai inti bela negara: disiplin, kekompakan, dan cinta tanah air. Melibatkan 10 regu terbaik SMA/SMK se-Kalimantan Utara, program ini menjadi jembatan antara teori kebangsaan di kelas dengan praktik nyata dalam kehidupan berkomunitas.

Baris-Berbaris: Lebih Dari Sekadar Gerak Tubuh, Sebuah Pendidikan Karakter Kebangsaan

Pada hakikatnya, lomba baris-berbaris yang diinisiasi MPR ini merupakan respon edukatif terhadap tantangan zaman. Seperti dijelaskan Kepala Biro Umum Setjen MPR RI, Herry Putra, pesatnya perkembangan teknologi informasi berpotensi menggerus ideologi dan rasa nasionalisme generasi muda. Oleh karena itu, program ini dirancang dengan pendekatan yang mendalam. Peserta tidak hanya dilatih keterampilan fisik seperti teknik baris-berbaris dan tata cara pengibaran bendera, tetapi juga dibekali pemahaman filosofis di balik setiap gerakan dan ritual tersebut. Tahapan pembelajarannya meliputi:

  • Pembekalan Konseptual: Memahami makna dan sejarah baris-berbaris sebagai simbol kedisiplinan dan persatuan bangsa.
  • Pelatihan Teknis: Menguasai teknik gerakan yang presisi dan tata upacara pengibaran bendera yang khidmat.
  • Internalisasi Nilai: Menghubungkan setiap gerakan dengan nilai-nilai kebangsaan seperti tanggung jawab, kerja sama tim, dan penghormatan terhadap simbol negara.
Melalui pendekatan ini, baris-berbaris berubah dari kegiatan seremonial menjadi sarana internalisasi karakter bela negara yang efektif dan menyentuh.

Membangun Jaringan Persaudaraan: Dari Tarakan Menuju Panggung Nasional

Manfaat program ini bersifat multidimensi dan berjenjang. Bagi pelajar, keikutsertaan membekali mereka dengan disiplin dan pemahaman kebangsaan yang lebih kokoh, menjadikan mereka agen perubahan di lingkungan sekolah masing-masing. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana. Regu terbaik yang berhasil menjadi juara di tingkat provinsi Kalimantan Utara akan mendapat kesempatan emas untuk mewakili daerahnya di kompetisi nasional di Jakarta pada akhir Agustus 2026. Momen ini jauh lebih berharga daripada sekadar memperebutkan piala. Ia menjadi sarana strategis untuk:

  • Memperluas Wawasan Kebangsaan: Berinteraksi langsung dengan pelajar dari berbagai suku, budaya, dan daerah di Indonesia.
  • Memperkuat Jaringan Persaudaraan: Membangun ikatan solidaritas antar-generasi muda nusantara.
  • Mengalami Bhinneka Tunggal Ika Secara Nyata: Belajar bahwa perbedaan latar belakang justru merupakan kekuatan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan demikian, perjalanan dari Tarakan menuju Jakarta simbolis perjalanan seorang pelajar dari rasa cinta daerah menuju kesadaran berbangsa dan bernegara yang lebih luas.

Program MPR ini merupakan contoh nyata bagaimana kurikulum bela negara dapat diimplementasikan secara kreatif dan menarik di luar dinding kelas. Ia menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak harus kaku, melainkan dapat dikemas dalam aktivitas yang menantang, kompetitif, dan penuh makna seperti lomba baris-berbaris. Keberhasilan kegiatan di Tarakan ini diharapkan dapat memantik inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan program serupa yang kontekstual.

Sebagai penutup, mari kita melihat kegiatan ini sebagai sebuah ajakan kolektif. Bagi para guru, inisiatif seperti ini dapat menjadi referensi untuk merancang kegiatan ekstrakurikuler yang mengintegrasikan nilai-nilai bela negara dengan keterampilan hidup. Sementara bagi pelajar di seluruh Indonesia, partisipasi dalam program sejenis adalah langkah nyata untuk melatih disiplin diri, membangun jiwa kolektif, dan mengokohkan rasa cinta tanah air sejak dini. Mari bersama-sama menjadikan setiap langkah dalam barisan sebagai langkah tegas menuju penguatan nasionalisme dan ketahanan bangsa.