Sebanyak 40 mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan) diterjunkan ke sepuluh sekolah dasar terpencil di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada 21 Agustus 2026. Program bertajuk “Akademi Desa Cinta Tanah Air” ini merupakan kerja sama antara Unhan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter dan kesadaran bela negara sejak usia dini, khususnya di daerah perbatasan yang rentan terhadap pengaruh budaya asing. Mahasiswa Unhan berperan sebagai pengajar bela negara yang membawa kurikulum khusus untuk siswa kelas 4-6, menyesuaikan materi dengan tingkat pemahaman mereka.
Materi Bela Negara yang Edukatif dan Interaktif
Kurikulum yang dibawakan oleh mahasiswa Universitas Pertahanan meliputi berbagai aspek penting dalam bela negara. Materi tersebut tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dan menyenangkan. Berikut ini adalah beberapa poin utama yang diajarkan:
- Pengenalan simbol negara: Siswa diajarkan arti dan makna dari bendera Merah Putih, lambang Garuda Pancasila, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
- Lagu kebangsaan dan lagu daerah: Latihan menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air.
- Latihan baris-berbaris dasar: Kegiatan fisik yang melatih kedisiplinan, kerja sama tim, dan kepatuhan pada aturan.
- Cerita perjuangan pahlawan dari daerah setempat: Menggali sejarah lokal, seperti kisah pahlawan dari Natuna, untuk memberikan contoh nyata tentang pengorbanan dan semangat bela negara.
Selain itu, mahasiswa Unhan juga membawa modul belajar berbasis permainan (edugame) yang interaktif. Contohnya adalah puzzle peta Indonesia dan kuis tentang keberagaman budaya Nusantara. Metode ini membuat pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar, sehingga mereka tidak merasa bosan saat menerima materi bela negara.
Bakti Lingkungan sebagai Wujud Bela Negara
Program ini tidak hanya berfokus pada materi di dalam kelas, tetapi juga kegiatan bakti yang nyata. Mahasiswa Unhan bersama siswa SD melakukan aksi bersih-bersih lingkungan sekolah dan menanam pohon mangrove di pesisir pantai Natuna. Kegiatan ini merupakan implementasi dari nilai bela negara dalam menjaga lingkungan hidup, sebagaimana tercantum dalam kurikulum bela negara yang menekankan pentingnya pelestarian alam. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktikkan nilai-nilai cinta tanah air dalam aksi nyata.
Manfaat jangka panjang dari program ini sangat signifikan. Di daerah perbatasan seperti Natuna, akses terhadap pendidikan karakter seringkali terbatas. Kehadiran mahasiswa Unhan sebagai pengajar bela negara memberikan model peran langsung bagi siswa SD, yang dapat menguatkan identitas kebangsaan mereka. Para siswa yang awalnya kurang terpapar nilai-nilai kebangsaan kini memiliki kesempatan untuk belajar dari para kader bela negara yang berdedikasi. Di sisi lain, mahasiswa Unhan mendapatkan pengalaman berharga dalam mengimplementasikan teori bela negara di lapangan, sehingga mereka siap menjadi agen perubahan di daerah terpencil.
Program “Akademi Desa Cinta Tanah Air” ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) lainnya di Indonesia. Dengan memperluas model ini, pendidikan bela negara dapat menjangkau lebih banyak siswa di seluruh pelosok negeri, memperkuat semangat persatuan dan kesatuan sejak usia dini. Guru dan pelajar diharapkan dapat mengambil inspirasi dari kisah ini, dengan aktif berpartisipasi dalam program-program bela negara di lingkungan masing-masing, baik melalui kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler. Mari bersama-sama kita menjaga keutuhan bangsa dengan menanamkan rasa cinta tanah air sejak sekarang!