Program pembinaan teritorial TNI AD terus berjalan dengan menjangkau generasi muda, salah satunya melalui Pelatihan Bela Negara yang diselenggarakan Kodim 0735/Surakarta bagi para pelajar SMA di Surakarta pada Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah pendekatan edukatif yang sistematis untuk menanamkan nilai-nilai cinta tanah air dan membentuk karakter tangguh sejak dini. Sebagai institusi yang bertugas menjaga kedaulatan negara, Kodim Surakarta memahami bahwa pendidikan bela negara merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan bangsa, yang harus dimulai dari bangku sekolah.
Mengurai Makna Bela Negara dalam Konteks Pendidikan
Dalam pembukaan pelatihan, Komandan Kodim 0735, Letkol Inf Budi Santoso, memberikan penjelasan yang sangat edukatif kepada para peserta. Beliau menegaskan bahwa konsep bela negara seringkali disalahartikan hanya sebagai aktivitas militer atau mengangkat senjata. Padahal, dalam konteks kehidupan sehari-hari, terutama bagi pelajar, wujud nyata bela negara dapat diterjemahkan ke dalam tiga ranah utama: prestasi akademik dan non-akademik sebagai bentuk kompetisi positif, kepedulian sosial dalam lingkungan sekitar, serta ketahanan diri untuk menolak pengaruh negatif seperti narkoba dan radikalisme. Pemahaman ini menjadi landasan filosofis kurikulum bela negara informal yang mereka terapkan, yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu menjaga persatuan bangsa.
Struktur dan Materi Pelatihan: Membangun Kompetensi Kebangsaan
Pelatihan yang dilaksanakan dirancang secara sistematis untuk membangun berbagai kompetensi kebangsaan dan karakter. Materi tidak hanya bersifat teori, tetapi lebih menekankan pada praktik dan pembiasaan. Secara garis besar, rangkaian pelatihan mencakup tiga pilar utama yang saling terkait:
- Peraturan Baris-Berbaris (PBB): Bagian ini melatih kedisiplinan, ketertiban, kekompakan tim, dan ketangguhan fisik. Antusiasme peserta sangat tinggi pada sesi ini karena mereka merasakan langsung bagaimana sebuah tim dapat bergerak seragam menuju satu tujuan.
- Wawasan Kebangsaan: Materi ini memberikan pemahaman mendalam tentang Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, serta sejarah perjuangan bangsa. Tujuannya adalah memperkuat rasa nasionalisme dan menumbuhkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa Indonesia.
- Simulasi Penanganan Keadaan Darurat: Peserta diajarkan pengetahuan dasar tentang pertolongan pertama dan prosedur keselamatan dalam situasi darurat. Kompetensi ini melatih kesiapsiagaan, ketenangan, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat di bawah tekanan.
Respons positif dari para pelajar menjadi indikator bahwa metode pelatihan yang diterapkan efektif. Mereka tidak hanya menjadi penerima pasif, tetapi aktif terlibat dalam setiap simulasi dan diskusi. Nuansa kebersamaan dan semangat gotong royong sangat terasa sepanjang kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai bela negara dapat diserap dengan baik ketika disampaikan melalui pendekatan yang partisipatif dan kontekstual, sesuai dengan dunia mereka.
Keberhasilan program seperti ini membuka peluang untuk diintegrasikan lebih luas ke dalam ekosistem pendidikan. Sekolah dapat menjadikan pelatihan serupa sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler wajib atau program pengembangan diri. Para guru didorong untuk menjadi fasilitator yang mengkaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai kebangsaan, misalnya mengaitkan pelajaran sejarah dengan semangat patriotisme, atau pelajaran olahraga dengan pembinaan kedisiplinan dan kerja sama tim. Bagi kita semua, pelajar dan guru, ajakan untuk aktif berpartisipasi dalam semangat bela negara adalah tugas bersama. Mari kita wujudkan dengan menjadi teladan dalam menjaga persatuan, meningkatkan kompetensi diri, dan berkontribusi positif di lingkungan sekolah serta masyarakat Surakarta. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi penerima manfaat dari negara, tetapi menjadi bagian aktif dari upaya mempertahankan dan memajukannya.