Program KKN Tematik Bela Negara yang digagas oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi wujud nyata sinergi antara pendidikan tinggi dan upaya penguatan karakter kebangsaan. Terhitung mulai 24 September 2026, para mahasiswa diterjunkan ke desa-desa terpencil di Kalimantan Barat selama dua bulan untuk mengimplementasikan nilai-nilai bela negara. Program ini tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum pengabdian masyarakat, tetapi juga langkah strategis dalam membangun ketahanan nasional dari pinggiran. Kehadiran mahasiswa di desa perbatasan ini diharapkan mampu menghadirkan perspektif baru dalam menjaga kedaulatan NKRI melalui aksi nyata.
Menanamkan Wawasan Kebangsaan Melalui Aksi Nyata
Salah satu fokus utama dalam KKN Tematik Bela Negara adalah pengajaran wawasan kebangsaan di sekolah-sekolah dasar dan menengah yang berada di desa perbatasan. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang menyampaikan materi mengenai Pancasila, UUD 1945, dan pentingnya cinta tanah air. Dengan menggunakan metode interaktif, para pelajar diajak untuk memahami makna bela negara dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar teori di dalam kelas. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran sejak dini bahwa menjaga kedaulatan bangsa dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu sekolah dan keluarga.
Untuk memastikan pemahaman yang komprehensif, program ini selaras dengan capaian pembelajaran dalam kurikulum bela negara, antara lain:
- Memiliki rasa cinta tanah air dan bangga sebagai warga negara Indonesia.
- Mampu berkontribusi secara nyata dalam menjaga keutuhan NKRI.
- Memahami peran strategis desa perbatasan dalam sistem pertahanan negara.
Membangun Ketahanan Desa dan Karakter Bela Negara
Selain aspek ideologi, KKN Tematik Bela Negara juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat melalui pelatihan ketahanan pangan. Mahasiswa mengajarkan teknik bercocok tanam sederhana dan pengolahan hasil bumi lokal yang relevan dengan kondisi geografis desa perbatasan yang rawan ketergantungan pasokan dari luar. Dengan pendampingan dari dosen, praktik pertanian berkelanjutan yang diajarkan dapat langsung diadopsi oleh warga. "Kami ingin bela negara tidak hanya dimaknai secara militer, tetapi juga sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri," ujar salah satu koordinator program.
Program ini turut mencakup bantuan infrastruktur dasar, seperti perbaikan akses jalan, sanitasi, dan penerangan umum. Mahasiswa bergotong royong dengan masyarakat setempat untuk merencanakan dan merealisasikan pembangunan sederhana yang berdampak langsung pada kesejahteraan. Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar untuk beradaptasi, memecahkan masalah, dan bekerja dalam tim di lingkungan yang serba terbatas. Pengalaman langsung ini menjadi laboratorium kepemimpinan bagi mahasiswa dalam mengamalkan nilai-nilai bela negara di tengah konteks pembangunan desa.
Langkah nyata UGM ini mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Bagi para guru dan pelajar, program ini adalah contoh nyata bahwa bela negara tidak hanya soal militer, tetapi juga tentang membangun desa dan memperkuat identitas kebangsaan. Mari kita dukung dan ikuti jejak para mahasiswa dalam aksi-aksi sederhana yang membawa dampak besar bagi NKRI, mulai dari lingkungan sekolah hingga ke pelosok negeri.