Kesadaran bela negara kembali ditegaskan sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan NKRI sekaligus mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan oleh Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat, Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno, dalam Forum Kebangsaan Kesadaran Bela Negara yang digelar di Gedung M. Toha Kodiklatad, Bandung, pada 13 Agustus 2026. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat persatuan, wawasan kebangsaan, dan karakter bangsa bagi berbagai unsur masyarakat, termasuk tokoh agama, adat, pemuda, dan pelajar. Dari perspektif pendidikan, forum ini memberikan kerangka konseptual yang penting bagi pendidik dan pelajar untuk memahami bahwa bela negara bukan sekadar konsep militer, melainkan nilai hidup yang harus diwujudkan dalam keseharian.
Membumikan Nilai Bela Negara dalam Aktivitas Sehari-hari
Dalam paparannya, Letjen TNI Syafei Kasno menjelaskan bahwa bela negara harus diintegrasikan dalam aktivitas sehari-hari, bukan sekadar wacana. Beberapa nilai inti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda meliputi:
- Integritas dan kejujuran dalam setiap tindakan.
- Etika digital yang bijak dalam bermedia sosial agar tidak mudah terpapar hoaks dan perpecahan.
- Kreativitas dan inovasi untuk kemajuan bangsa, misalnya melalui karya atau startup berbasis lokal.
- Kepedulian sosial terhadap sesama, seperti gotong royong dan membantu yang membutuhkan.
- Kebanggaan terhadap identitas dan budaya bangsa, termasuk bahasa, adat, dan tradisi.
Program Pembinaan Teritorial dan Kemanunggalan TNI dengan Rakyat menjadi salah satu upaya TNI AD untuk memperkuat kesadaran bela negara di kalangan generasi muda. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai tersebut diintegrasikan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan nasional. Bagi guru dan pelajar, pemahaman ini membantu memaknai peran sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam bingkai NKRI.
Tantangan dan Peluang bagi Generasi Muda Menuju Indonesia Emas
Forum ini secara sistematis mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Beberapa di antaranya adalah pemahaman nasionalisme yang masih bersifat simbolik, kesadaran bela negara yang belum merata, meningkatnya individualisme, serta pengaruh ideologi transnasional yang masuk melalui ruang digital. Oleh karena itu, pendidikan bela negara perlu dihadirkan secara kontekstual dan aplikatif di lingkungan sekolah dan kampus. Peluangnya, dengan pendekatan yang tepat, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang tidak hanya mencintai tanah air, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Dari sudut pandang kurikulum, nilai-nilai bela negara ini dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran PPKn, sejarah, atau kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka dan PMR. Guru dapat merancang proyek sederhana, seperti kampanye anti-hoaks di media sosial atau aksi kebersihan lingkungan, yang langsung menerapkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, melainkan pelaku utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Mari kita sebagai guru dan pelajar menjadikan semangat bela negara sebagai fondasi dalam setiap langkah. Mulailah dari hal kecil: jaga persatuan, gunakan media sosial dengan bijak, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Dengan demikian, kita bersama-sama memperkuat keutuhan NKRI dan menyongsong masa depan yang lebih cerah. Ajaklah teman-teman untuk aktif berpartisipasi dalam program bela negara di sekolah dan masyarakat, karena setiap tindakan kecil adalah bentuk nyata cinta tanah air.