Kementerian Pertahanan RI (Kemhan) secara sistematis memperkuat fondasi karakter kebangsaan melalui program Sosialisasi dan Diseminasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Program yang dijalankan oleh Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional (Bacadnas) ini merupakan langkah strategis untuk membangun kesadaran kolektif di seluruh lapisan masyarakat, dengan fokus utama pada generasi muda sebagai calon pemimpin Indonesia Emas 2045.
Memahami Kompetensi Inti dalam Pendidikan Bela Negara
Seperti yang dijelaskan oleh Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, Sosialisasi yang diusung Kemhan bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan sebuah proses pembelajaran untuk menumbuhkan nilai-nilai bela negara sebagai karakter. Pendidikan ini menyasar pelajar, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan pemuda dengan tujuan membangun kompetensi kebangsaan yang mencakup:
- Cinta Tanah Air yang Mendalam: Mengapresiasi dan memahami kekayaan alam serta keberagaman budaya Nusantara.
- Kesadaran Berbangsa dan Bernegara: Memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
- Kesetiaan pada Dasar Negara: Berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dan konstitusi UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari.
- Semangat Rela Berkorban: Menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Internalisasi keempat kompetensi ini pada generasi muda dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh, berkarakter, dan siap menjawab tantangan global di masa depan.
Kampung Bela Negara: Model Pembelajaran Kontekstual di Tingkat Akar Rumput
Sebagai respons kreatif dan aplikatif terhadap program Kementerian Pertahanan, Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, mengusulkan konsep inovatif ‘Kampung Bela Negara’. Gagasan ini merupakan model implementasi kurikulum kebangsaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat desa. Kampung Bela Negara dirancang sebagai ruang belajar nyata dan laboratorium kebangsaan, di mana nilai-nilai bela negara tidak hanya dipelajari, tetapi juga dipraktikkan dalam keseharian.
Konsep ini mendapat apresiasi tinggi karena mampu mendemokratisasikan akses pendidikan kebangsaan. Di Kampung Bela Negara, konten pendidikan bela negara dapat diintegrasikan dengan kearifan lokal, kegiatan ekonomi kreatif, seni budaya, dan tradisi gotong royong yang sudah hidup di masyarakat. Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan membumi, terutama bagi pelajar sekolah yang dapat melihat langsung penerapan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, program Sosialisasi dari Kemhan dan inisiatif Kampung Bela Negara dari Lombok Tengah saling melengkapi. Jika program Kemhan memberikan kerangka pengetahuan dan nilai, maka Kampung Bela Negara menjadi ruang aplikasinya. Kolaborasi ini memperkokoh persatuan di tingkat komunitas sekaligus menyiapkan generasi muda yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu mengamalkan semangat bela negara dalam tindakan nyata.
Bagi para guru dan pelajar, momentum ini merupakan kesempatan emas untuk terlibat aktif. Guru dapat mengintegrasikan materi dari sosialisasi ini ke dalam pembelajaran di kelas, sementara pelajar dapat mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan di Kampung Bela Negara sebagai bagian dari pendidikan karakter. Mari bersama-sama menjadikan nilai cinta tanah air, kesadaran berbangsa, dan semangat bela negara sebagai bagian dari identitas kita sebagai warga negara Indonesia yang tangguh dan berdaya saing.