Beranda / Bela Negara / Hari Kesaktian Pancasila 2026, Akademisi Unimed Ajak Se...
Bela Negara

Hari Kesaktian Pancasila 2026, Akademisi Unimed Ajak Sekolah dan Kampus Rawat Persatuan Melalui Tindakan Nyata

Hari Kesaktian Pancasila 2026, Akademisi Unimed Ajak Sekolah dan Kampus Rawat Persatuan Melalui Tindakan Nyata

Artikel ini mengajak guru dan pelajar memaknai Hari Kesaktian Pancasila melalui pendidikan karakter yang aplikatif di sekolah. Akademisi Unimed menekankan pentingnya keteladanan, penghargaan terhadap perbedaan, dan musyawarah sebagai langkah nyata bela negara. Dengan menghidupkan nilai Pancasila sehari-hari, siswa dan mahasiswa belajar menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan siap menjaga persatuan bangsa.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober bukan sekadar seremoni tahunan. Di tahun 2026, momen ini menjadi panggilan bagi seluruh komunitas pendidikan untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata. Akademisi Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr. Dionisius Sihombing, mengajak sekolah dan kampus untuk menjadikan hari kesaktian pancasila sebagai titik tolak memperkuat persatuan bangsa. Tema peringatan tahun ini, 'Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur', mengingatkan bahwa bela negara tidak harus melalui angkat senjata, melainkan melalui pendidikan karakter yang aplikatif di lingkungan sekolah dan kampus.

Pendidikan Karakter sebagai Implementasi Bela Negara di Sekolah

Menurut Dr. Dionisius, Pancasila tidak boleh berhenti pada hafalan sila-sila atau upacara bendera. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman perilaku sehari-hari. Inilah esensi dari pendidikan karakter yang merupakan bagian dari kurikulum bela negara. Melalui pendidikan karakter, siswa dan mahasiswa belajar menjadi warga negara yang bertanggung jawab, cinta tanah air, dan siap menjaga keutuhan bangsa. Langkah konkret yang dapat dilakukan di sekolah antara lain:

  • Keteladanan guru dan dosen: Bersikap adil, menghargai setiap peserta didik tanpa memandang latar belakang, serta menjadi contoh dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila.
  • Pembiasaan sikap positif siswa: Membangun persahabatan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan; menolak perundungan; menjaga kejujuran; serta aktif bergotong royong.
  • Pengembangan lingkungan belajar yang inklusif: Sekolah dan kampus perlu menciptakan suasana aman, terbuka untuk dialog sehat, dan mendorong musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan.

Langkah Nyata Merawat Persatuan Melalui Tindakan Sehari-hari

Pendidikan karakter yang membumi akan memperkuat literasi wawasan kebangsaan di kalangan pelajar. Dengan membiasakan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah dan saling menghormati, siswa secara tidak langsung berlatih menerapkan nilai persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan nasional sejak dini. Beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan oleh guru dan pelajar antara lain:

  • Mengadakan diskusi kelas tentang implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tentang toleransi dan gotong royong.
  • Melaksanakan program sekolah seperti 'Jumat Berbagi' atau 'Kegiatan Bakti Sosial' yang melibatkan seluruh elemen tanpa diskriminasi.
  • Membentuk kelompok belajar lintas jurusan atau lintas kelas untuk menumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan pendapat dan latar belakang.

Melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten, sekolah dan kampus menjadi laboratorium kecil bagi pembentukan karakter bangsa. Guru dan pelajar memiliki peran strategis dalam merawat persatuan. Mari jadikan hari kesaktian pancasila bukan sekadar peringatan, melainkan momentum untuk bertindak nyata. Ajaklah teman-teman di kelas untuk selalu mengamalkan sila-sila Pancasila dalam setiap interaksi. Dengan demikian, kita turut serta dalam membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur—sejak dari bangku sekolah.

Tokoh Dr. Dionisius Sihombing
Organisasi Universitas Negeri Medan (Unimed)