Upaya sistematis menanamkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda kini semakin menguat melalui program-program pembinaan teritorial TNI di berbagai daerah. Di Lamongan, Koramil 0812/17 Paciran menjalankan sosialisasi yang menjadi bagian dari Program Karya Bakti TNI Satuan Komando Kewilayahan. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik infrastruktur, tetapi menitikberatkan pada penguatan mental, karakter, dan jiwa nasionalisme masyarakat. Intinya, wawasan kebangsaan dihadirkan agar menjadi pedoman sikap dan perilaku sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan teoretis di ruang kelas.
Gotong Royong dan Cinta Tanah Air sebagai Pilar Kurikulum Bela Negara
Dalam pemaparan materinya di Desa Kandangsemangkon, Danramil Kapten Inf Imam Mustain menyajikan materi dengan pendekatan yang sistematis dan mudah dipahami. Hal ini penting agar nilai-nilai kebangsaan dapat terserap oleh generasi muda dan seluruh lapisan masyarakat desa. Kapten Imam menekankan bahwa bela negara bukanlah konsep yang abstrak, melainkan dimulai dari praktik nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau mengidentifikasi dua modal utama menjaga keutuhan NKRI:
- Nilai Persatuan dan Gotong Royong: Kekuatan kolaboratif untuk membangun desa dan menyelesaikan masalah bersama.
- Cinta Tanah Air: Rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga kehormatan dan kemajuan bangsa.
Manfaat Pembelajaran Langsung bagi Karakter dan Ketahanan Masyarakat
Sosialisasi wawasan kebangsaan seperti ini memberikan manfaat pembelajaran langsung yang sangat berarti, khususnya bagi pelajar dan pemuda Lamongan. Mereka mendapatkan pemahaman yang mendalam dan kontekstual tentang hakikat berbangsa dan bernegara. Program ini berperan sebagai suplemen kurikulum pendidikan kewarganegaraan, dengan tujuan:
- Memperkuat Karakter Kebangsaan: Membentuk identitas dan sikap yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
- Meningkatkan Ketahanan Masyarakat: Membentengi generasi muda dari pengaruh negatif globalisasi yang dapat mengikis rasa cinta tanah air.
- Membangun Kesadaran Kolektif: Menegaskan bahwa menjaga persatuan dan kerukunan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, tanpa terkecuali.
Kegiatan pembinaan teritorial yang mengusung semangat bela negara ini memberikan model pendidikan karakter yang aplikatif. Ia menunjukkan bahwa pembelajaran tentang kebangsaan dapat dan harus terjadi di luar dinding sekolah, melibatkan seluruh komunitas. Untuk itu, peran aktif guru dalam mengintegrasikan kisah dan nilai dari kegiatan seperti ini ke dalam proses belajar mengajar menjadi sangat krusial. Sementara bagi pelajar, momentum ini adalah ajakan untuk tak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga menjadi agen perubahan—mengamalkan semangat gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air dalam interaksi sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat. Dengan demikian, cita-cita mencetak generasi muda yang tangguh dan berkarakter kebangsaan kuat dapat terwujud dari langkah-langkah nyata kita bersama.